Eko Patrio: Tak Ada Urgensi Impor, Malah Bulog Kesulitan Salurkan Beras

 Eko Patrio: Tak Ada Urgensi Impor, Malah Bulog Kesulitan Salurkan Beras

Fraksipan.com – Anggota Komisi VI DPR RI fraksi PAN Eko Hendro Purnomo atau Eko Patrio mendukung permintaan Ombudsman untuk menunda impor beras. Eko Patrio melihat tidak ada urgensi untuk dilakukan impor beras.

“Saya mendukung upaya penundaan impor beras ini. Saya juga tidak melihat ada urgensi dari dilakukannya impor beras ini. Ada beberapa hal yang melatarbelakanginya,” kata Eko Patrio kepada wartawan, Rabu (24/3/2021).

“Pertama, impor beras ini akan dilakukan mendekati masa panen, artinya nanti akan merugikan petani sendiri karena akan memberikan pengaruh terhadap harga panen yang otomatis akan jadi lebih murah,” sambungnya.

Ketua DPW PAN DKI Jakarta itu kemudian memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) soal proyeksi produksi beras RI saat ini. Menurut Eko, konsumsi beras juga menurun tiap tahun.

“Kedua, data dari BPS menunjukkan ke depan proyeksi produksi beras sebetulnya masih mencukupi kebutuhan. Tingkat konsumsi beras per orang kita juga turun terus tiap tahun. Di saat yang bersamaan juga pemerintah berhasil meningkatkan ketersediaan lahan baku untuk komoditas beras dari 7,1 juta hektare menjadi 7,46 juta di 2020,” katanya.

Lebih lanjut, Eko menilai pemetaan kebutuhan impor beras meleset. Dia menyoroti cadangan beras Bulog.

“Bicara mengenai data, hal lain yang menurut saya menarik karena ternyata pemetaan kebutuhan impor beras masih meleset. Ini ada laporan bahwa cadangan beras di Bulog sudah melewati batas 1 juta ton atau di bawah volume minimal untuk stabilisasi pasokan beras. Tetapi, malah Bulog mengatakan sulit untuk menyalurkan beras yang sudah diimpor sebelumnya,” jelas dia.

“Temuan di enam gudang Bulog di Tegal misalnya, terdapat tumpukan beras hingga 2.000 ton yang diimpor dari Vietnam, Thailand dan India pada 2018 yang sekarang sudah buruk kualitasnya. Ini baru di Tegal, jika mengacu pada data seluruh Indonesia, total beras turun mutu ini mencapai 106.642 ton,” lanjutnya.

Menurut Eko kebutuhan masyarakat terhadap beras tidak terpetakan dengan jelas. Eko Patrio mewanti-wanti agar impor beras tidak menguntungkan sejumlah pihak.

“Saya rasa fenomena ini menggambarkan permasalahan utama kita saat ini, di mana kebutuhan masyarakat tidak terpetakan dengan jelas sehingga impor beras yang sudah dilakukan tidak dapat disalurkan karena di lapangan sudah tercukupi bahkan surplus. Jangan sampai, kebijakan impor beras ini hanya menguntungkan segelintir pihak saja dan justru malah merugikan petani dan masyarakat luas,” jelasnya.

Untuk diketahui, pemerintah mewacanakan impor 1 juta ton beras. Ombudsman RI menyoroti ada potensi maladministrasi dalam keputusan impor beras itu.

“Ombudsman mencermati adanya potensi maladministrasi terkait mekanisme keputusan impor beras,” kata anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika dalam konferensi pers yang disiarkan melalui akun YouTube Ombudsman RI, Rabu (24/3/2021).

Adapun potensi maladministrasi itu Ombudsman menilai tidak ada indikator yang mengharuskan pemerintah memutuskan impor beras. Sebab, ditinjau dari data BPS, justru produksi beras diperkirakan surplus pada saat musim panen raya.

“Saya kalau ditanya sekarang belum tahu karena kita mencium adanya potensi maladministrasi itu karena polemik terjadi, karena beberapa indikasi, seperti produksi kita nggak ada masalah, stok beras di masyarakat tidak ada masalah, stok beras di tingkat penggilingan pelaku usaha juga tidak ada masalah, sehingga kami melihat jangan jangan ada yang salah dalam memutuskan ini,” ujar Yeka.

Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi sudah menjelaskan perihal wacana impor 1 juta ton beras. Ia menjelaskan niatnya bukan menghancurkan harga di petani, tapi ingin menjaga harga beras di pasaran, sebab ada kekhawatiran, Perum Bulog bakal kesulitan memenuhi target cadangan beras 1-1,5 juta ton setahun mengingat masa panen raya kali ini masih sering diselingi musim hujan, membuat banyak gabah basah. Akhirnya tidak bisa disimpan jadi cadangan di Perum Bulog.

“Saya ingin pastikan hari ini belum ada impor, tidak akan menghancurkan harga beras petani dan saya jamin tidak ada niatan pemerintah hancurkan harga petani. Yang ada sekarang gabah basah, gabah nggak bisa dibeli Bulog, petani berhadapan dengan pedagang, itu yang terjadi,” Lutfi dalam konferensi pers virtual, Jumat (19/3). (ed)

editor

Artikel terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.